Forum Kebenaran tentang Islam

Forum kebebasan berpikir Islam


All times are UTC




Post new topic Reply to topic  [ 4 posts ] 
Author Message
 Post subject: Islam adalah Agama Kebencian
PostPosted: Mon Oct 29, 2012 10:11 am 
Offline
Site Admin

Joined: Sat Sep 01, 2012 4:03 am
Posts: 28
Islam adalah Agama Kebencian


Baru-baru ini, Centre for Religious Freedom, sebuah lembaga yang menekuni bidang kebebasan beragama di Amerika Serikat, mengeluarkan hasil penelitian tentang kurikulum dan buku-buku yang diajarkan di sekolah-sekolah Arab Saudi. Salah satu temuan penting penelitian itu adalah bahwa kurikulum dan buku-buku Islam yang diajarkan sekolah-sekolah Arab Saudi penuh dengan kebencian dan permusuhan terhadap agama Yahudi, Kristen, dan kaum Muslim yang tak sepaham dengan ajaran Wahabi.

Penelitian itu cukup komprehensif. Dengan melibatkan beberapa peneliti dari Timur Tengah dan Arab Saudi sendiri, tim peneliti mengambil buku-buku daras yang diajarkan di sekolah-sekolah, dari Sekolah Dasar (SD) hingga tingkat menengah (SMU). Sebagian besar buku itu adalah buku-buku mengenai teologi (Tauhid) dan sebagian lain mengenai hukum Islam (Fikih) dan hadis.

Hasil penelitian itu sangat menarik dan penting untuk disimak, karena meskipun obyek penelitiannya hanya Arab Saudi, tema yang diangkat menyangkut ajaran dan doktrin Islam yang erat terkait dengan kaum Muslim secara lebih luas. Apalagi Arab Saudi dianggap sebagai “pusat” dan “model” Islam oleh banyak kaum Muslim di dunia.

Arab Saudi dikenal sebagai negara yang secara keras menerapkan hukum Islam. Secara resmi negara mendeklarasikan diri sebagai kerajaan Islam dan mempraktikkan aturan-aturan sosial-kemasyarakatan secara Islami. Pendidikan Islam juga ditekankan secara berlebihan, dengan pemisahan laki-laki dan perempuan di sekolah-sekolah, dan memasukkan materi-materi keagamaan pada setiap disiplin ilmu.

Kurikulum yang diajarkan sekolah-sekolah Arab Saudi sesungguhnya juga tidak unik. Beberapa doktrin dan ajaran Islam yang diajarkan kurikulum itu dengan mudah dapat dijumpai di sekolah-sekolah lain di Timur-Tengah. Kita bahkan juga bisa menjumpai beberapa materinya di sekolah-sekolah Indonesia.

Secara umum, kurikulum keislaman yang diajarkan di dunia Islam diambil dari sumber-sumber utama Islam seperti Alquran dan Hadis. Sumber lain adalah buku-buku fikih dan teologi yang dikarang ulama-ulama zaman dahulu. Beberapa dari sumber-sumber itu memang mengandung anjuran-anjuran intoleransi dan permusuhan terhadap agama atau sekte lain. Hal ini lumrah belaka, karena masa pembentukan Islam juga diwarnai oleh ketegangan dan pertentangan, baik dengan Yahudi-Kristen maupun sekte-sekte sempalan.

Karena itu, tidak mengherankan jika kita menemukan di kurikulum itu adanya anjuran untuk membenci kaum Yahudi, Kristen, atau Syi’ah. Saudi Arabia dikenal sebagai negara yang sangat membenci sekte Syi’ah, selain Sufisme.

Di hampir setiap buku daras (text book) yang diajarkan di sekolah-sekolah Arab Saudi –dan saya kira juga di negeri Islam lainnya—murid-murid diajarkan tentang keluruhan Islam dan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Doktrin ini bukan ciptaan ulama, tapi merupakan ajaran yang dinukilkan langsung dari Alquran yang mengatakan “siapa saja yang menghendaki agama selain Islam, tak akan diterima” (Q.S. 3:85).

Agama-agama besar lainnya selalu dipersepsi sebagai agama yang sesat, jahat, dan selalu memusuhi Islam. Ini juga merupakan derivasi langsung dari Alquran: “Orang-orang Yahudi dan Nasrasi tak akan rela sehingga kalian semua masuk ke dalam agama mereka” (Q.S. 2:120).

Rasa benci dan permusuhan kepada Yahudi dan Kristen telah ditanamkan sejak sangat dini kepada anak-anak Muslim. Sebuah buku pengajaran untuk anak Kelas 1 SD di Arab Saudi, misalnya, memaparkan sebuah soal yang harus dijawab, sebagai berikut:

“Isilah titik-titik berikut dengan kata-kata yang cocok (Islam, neraka): Setiap agama selain …….. adalah sesat. Setiap orang yang mati di luar Islam akan masuk ke ………”
Kepada siswa kelas 4 SD diajarkan tentang makna iman yang benar, yakni bahwa “iman yang benar adalah bahwa kamu membenci musyrik dan kafir tapi tidak memperlakukan mereka secara tidak adil.” Musyrik dan kafir selalu merujuk kepada Yahudi, Kristen, dan agama-agama lain di luar Islam.

Permusuhan kepada orang-orang yang tidak seiman selalu ditekankan. Dalam hal ini, “tidak seiman” bukan hanya berarti orang-orang Yahudi dan Nasrani, tapi bisa siapa saja yang memiliki keyakinan berbeda, termasuk saudara Muslim sendiri yang dianggap “tidak seiman.” Secara jelas, ini diajarkan pada siswa kelas 6 SD, dengan menegaskan bahwa orang yang seiman, meski tak punya hubungan darah adalah saudara, tapi orang yang tak seiman, meskipun saudara, adalah musuh.

Siswa-siswa SMP diajarkan materi keagamaan yang lebih matang, meski nuansa-nuansa kebencian tetap dipelihara. Kepada kelas 2 SMP, anak-anak sekolah di Arab Saudi diajarkan hadis Nabi yang entah sahih atau daif: “monyet-monyet adalah Yahudi, orang-orang Sabat; sementara babi-babi adalah orang-orang Kristen, yang menentang Nabi Isa.”

Kebencian terhadap Yahudi dan Kristen terus dipelihara sepanjang masa. Hampir setiap kelas, rasa kebencian dan permusuhan itu terus dijaga. Kepada kelas 3 SMP, siswa diajarkan bahwa pertentangan antara Muslim dengan Yahudi dan Kristen akan bertahan terus sampai hari kiamat. Mengapa demikian? Jawabnya, karena Allah menghendaki demikian.

Siswa-siswi SMA diajarkan materi yang lebih luas dan lebih analitis, meski nuansa kebencian dan diskriminasi tetap terlihat jelas. Dalam mata pelajaran Fikih, misalnya, diajarkan bahwa nilai hidup orang-orang non-Muslim adalah separuh dari orang-orang Muslim yang merdeka. Status nyawa mereka sama dengan budak yang beragama Islam.

Secara umum, perlakuan kurikulum Arab Saudi terhadap non-Muslim sama dengan perlakuan terhadap kaum perempuan. Dengan merujuk buku-buku fikih klasik, kaum perempuan selalu dihargai separuh, baik dalam masalah warisan, kesaksian, maupun perkara-perkara lain yang bersifat publik.

Dengan muatan kurikulum semacam itu, tidak salah kalau banyak orang meyakini bahwa adanya keterkaitan erat antara cara beragama orang-orang Saudi dengan doktrin-doktrin yang diajarkan di sekolah-sekolah mereka. Kebencian terhadap Amerika, negeri kafir di mana banyak orang Yahudi dan Kristen tinggal, dinyatakan dengan mengebom gedung WTC pada 11 September 2001. Bukankah 15 dari 19 pengebom itu adalah warga Arab Saudi?


ALI SINA: Pelajari Alquran, Kamu akan Tahu Islam yang Sebenarnya!



Kekerasan Islami adalah hasil langsung dari teologi Islam. Betapa naifnya utk percaya bahwa gerakan Wahabi, Revolusi Khomeini dan Al-Qaeda sama sekali tidak ada hubungannya dg ajaran kebencian dalam Quran. Sejarah juga memasukan kisah Muhammad dan perang terornya.

Saya setuju dg Mr. Pipes bahwa Quran adalah kitab yg membingungkan, bahwa banyak ayatnya diganti2 dan seseorang harus punya pengetahuan tentang sha’ne nozool (konteks) utk mengerti buku ini. Tapi muslim terpelajar seperti para Mullah juga punya pengetahuan itu dan mereka tahu semua yg disebut pengajaran lembut dari Quran yg ‘diungkapkan’ ketika Muhammad masih lemah telah diganti semuanya ! Dan ajaran yg sah adalah ajaran2 yg ‘diungkapkan’ kemudian, yang menyebut2 pembunuhan para kafir (9:123), jangan berteman dg yahudi dan kristen (5:51), tundukan mereka sampai mereka bayar pajak Jizya (9:29), anggap mereka najis (kotoran, tidak boleh disentuh, tidak murni) (9:2) dll.

Singkatnya, Quran adalah buku kekerasan. Pesan dari Quran adalah pesan kebencian. Pesan ini sangat jelas dan keras. Sangat tidak mungkin utk mereka yg percaya dan mengikuti Quran utk menghindari kebencian pada mereka yg lain agama. Mustahil utk berpikir bahwa ajaran2 yg mengilhami kebencian dalam Quran tidak ada sangkut pautnya dg kebangkitan militan Islam. Silahkan anda mendengar khotbah2 di mesjid2 utk melihat dan mendengar jenis kebencian yg diajarkan dan darimana sumber kebencian itu. Ya, pelajarilah Quran utk melihat darimana militan Islam mendapat ajarannya.

Kalau Islam agama Kebencian, kenapa pengikutnya banyak yang tidak jahat?

Pernah seorang bernama Romadi (Al-Islah) mengatakan bahwa dirinya bisa berteman dengan baik dengan orang Kristen lantaran dia menghilangkan sikap fanatisme dalam agamanya. Jelaslah bahwa fanatisme Islam adalah bertentangan dengan nurani. Dia sebenarnya tanpa disadari mengakui kalau ajaran Islam itu picik dan tidak sesuai dengan perikemanusiaan. Jika ia lebih mengedepankan Islamnya, maka ia akan membenci temannya yang "kafir" itu lantaran beragama Kristen. Dan kini, dia tetap bisa berteman dengan baik dengan siapapun juga termasuk "kafir" karena tidak menghiraukan ajaran jahat agamanya namun lebih mengutamakan arti persahabatan antar sesama.

Setiap manusia, di luar pengaruh agama, memiliki hati nurani. Hanya binatang yang tidak memiliki hati nurani.
Ibu Teresa-pun kalau dilahirkan sbg atheis tetap akan mengajarkan kebaikan, cinta kasih, pengampunan dsb. Tetapi ia diinspirasi oleh ajaran Kristen. Dan agama itu tidak menghalanginya utk berbuat baik, malah membuatnya tambah baik dan mendedikasikan seluruh hidupnya bagi orang lain.

Tapi seandainya Ibu Teresa dilahirkan sbg Muslim, bgm kelakuannya ? Ini tergantung dari Ibu Teresa memilih jadi manusia baik atau Muslim baik. Utk menjadi Muslim baik, Ibu Teresa harus menganggap non-Muslim najis. Ia tidak boleh berteman dgn non-Muslim. Jika ia menjadi perawat, ia tidak boleh menyentuh pasien lelaki. Ia harus membenci Hindu, Yahudi dan Kristen, dan siapapun yg bukan Muslim. Ia tidak dapat memperlakukan Muslim dan non-Muslim secara sederajad. Sbg Muslim baik, Ibu Teresa harus memprioritaskan pasien Muslimnya terlebih dahulu.

Tes mana agama yg benar bukan tergantung dari berapa banyak ajaran baiknya, tetapi berapa banyak ajaran BURUKnya. Memang mengherankan bgm orang2 sangat pandai hanya memandang ajaran Islam yg baik2 saja dan sama sekali tidak menggubris ajaran jeleknya.

Banyak Muslim mengeluh, mengapa hanya melihat pada jeleknya saja ? Jawaban saya : kalau anda menyebut agama anda sbg yang paling sempurna, mengapa ada ajaran jelek dalam ajaran Islam?

Alasan kau menjadi baik adalah karena kau tidak mendalami Islam. Pengetahuan dan pengertianmu ttg Islam hanyalah di permukaan saja. Tapi begitu kau mula membaca Quran dgn seksama maka kemungkinan hanya dua: kau akan meninggalkan Islam, atau kau menjadi teroris.

Saya yakin kebanyakan Muslim memang orang baik. Dan begitu mereka disadarkan akan kepalsuan Islam, mereka akan menjauh dari Islam. Saya yakin sepenuhnya bahwa akhir Islam sudah dekat. Islam sudah dihancurkan. Buktinya baca saja artikel2 di situs ini. Tantangannya adalah bgm membawa kabar ini ke semua Muslim. Jangan kau takut dgn jumlah Muslim yg satu milyar.

Islam spt rumah kartu, fondasinya sudah keropos. Tinggal tunggu waktunya saja. Kau tinggal memilih, mau ikut kami, atau ikut Muslim yg semakin hari semakin dibenci dan dijauhi spt penyakit LEPRA.


Bukan Orangnya, Tapi Agamanya


Masalahnya dengan Islam radikal, bukannya Muslim yg berkelainan jiwa, pengidap psychotic sociopath yg perlu kita khawatirkan. Yang menjadi masalah dengan Islam radikal adalah kemampuannya untuk merayu orang baik-baik, pandai, manusiwai dan berbudi baik sampai menjadi pelaku-pelaku perbuatan ekstrim.

Inilah sebabnya kita tidak bakal bisa meyakinkan Muslim bahwa memang ada problem dengan agama mereka. Pengalaman pribadi mereka sendirilah yang mengajari mereka bahwa, sebagai contoh, semua muslim yang mereka kenal, teman2 dan famili mereka, adalah orang baik, lembut dan murah-hati. Mereka menghubungkan ini dengan Islam. Tapi saya menghubungkan ini dengan sifat kemanusiaan belaka…

Pengalaman saya tinggal di sebuah negara Islami memang banyak Muslim baik2. Tapi masalahnya adalah agamanya yg sangat absolut menuntut kemutlakan, begitu ‘murninya’ sampai tidak memperbolehkan sedikitpun ruang bertanya atau keraguan tentang dogmanya, dan tidak ada kritisi dari dalam.

Setelah menciptakan mitos mengenai monodiety (tauhid, satu Allah) yang absolut, Islam seolah2 seperti telah meloloskan ‘jin dari dalam botol’ yg tidak bisa dimasukkan kembali. Prinsip Islam ini begitu kuat, sementara struktur agamanya juga begitu lemahnya sampai2 Islam menjadi serupa internal combustion engine (mesin pembakaran internal) yang dindingnya sudah meledak dan menciptakan kebakaran besar. Prinsip dasar Islam ini mungkin memang cukup bagus dan mungkin berguna tapi tidak bisa dikendalikan begitu diterapkan pada lingkungan yang berbeda.

Hasil bersihnya mungkin positif kalau tidak ada faktor2 external. Namun sifat Islam yang kukuh-kolot tidak akan membiarkan pengikutnya untuk bertindak dengan keikhlasan hati yang cukup untuk bisa menerima non-muslim sebagai mahluk yang sederajad.. Muslim dilarang kawin campur dengan non-muslim (kecuali non-muslim masuk Islam) dan dalam banyak hal lain menentang asimilasi (contoh : di Barat). Jadi ketika Islam diperkenalkan kepada lingkungan non-Islam, ketegangan pun tidak dapat lagi dihindarkan dan seringkali menjadi kekerasan.

Bagi para Muslim yang mungkin membaca ini saya akan terus-terang saja. Sebagai manusia anda bisa saya terima, saya menghargai anda dan banyak kalangan anda, yg saya tahu, saya akan bangga untuk menganggap teman. Namun agaman anda itu, maaf-maaf saja, saya tidak bisa menerimanya dan bahkan merasa wajib untuk melawannya karena agama anda adalah sumber dari sekian banyak masalah.

Pym Fortun dari Belanda tewas karena dia berani jujur. Islam tidak menyumbang kebaikan apa-apa bagi Eropa. Hal yang sama juga berlaku bagi banyak negara lainnya…

Meskipun saya selalu percaya bahwa semua orang boleh beribadah kepada apa saja yang mereka yakini, apa pun itu namanya, saya tidak dapat mentoleransi penyebaran Islam yang berkelanjutan tanpa ada satu pun upaya moderasi dari absolutisme yang demikian mendarah-daging. Dan karena kelihatannya tidak mungkin untuk memoderatkan Islam, pilihan satu-satunya adalah untuk menentangnya…

Sebagai mana telah disebut2 dalam posting2 terdahulu, beberapa politisi saat ini telah sampai kepada kesimpulan yang sama. Dari Australia sampai England, para politisi mulai sependapat bahwa untuk tinggal di negara2 kami Muslim-lah yang harus menerima supremasi dan kedaulatan hukum di wilayah2 kami di atas segala hukum dan keyakinan2 lain. Dan jika anda tidak dapat menerima hal itu, silahkan anda pergi sajalah ke tempat lain…

Demokrasi di Barat adalah hasil sepakat bersama, demokrasi harus diterima oleh semua pihak sebagai sebuah kesepakatan sosial agar masyarakat kita dapat melangsungkan kehidupan. Masalah tentang Islam ini ialah bahwa Islam selalu ngotot untuk harus meninggikan posisinya di atas segala kesepakatan/perjanjian sosial atau politis (dengan kata lain = mengacau keharmonisan).

Anda tidak percaya ? Bacalah berita dunia dan anda mengerti bahwa 90% kerusuhan di dunia diakibatkan oleh Islam.



The Problem is Islam, not Muslims


Kita harus membedakan antara Muslim dan Islam. Muslim adalah orang, mahluk manusia seperti anda dan saya dengan sifat baik, harapan, dan aspirasi2 yang menjadi ciri kita semua umat manusia; tapi Islam adalah doktrin yang mengajarkan manusia2 menjadi benci kepada manusia2 lainnya. Kebanyakan Muslim tidak tahu apa-apa tentang Islam. Rata2 Muslim masih percaya bahwa Islam adalah agama damai karena nama itu diturunkan dari kata damai. Banyak Muslim yakin bahwa Muhammad itu orang jujur. Mereka tidak tahu tentang kejahatan-kekejian yang dilakukan sang Nabi suci dan bahwa dia ini adalah sosok pendendam yang membunuh orang2 tak berdosa tanpa rasa bersalah sedikitpun. Mayoritas Muslim percaya bahwa Muhammad menghapuskan perbudakan dan tidak mengetahui bagaimana buasnya dia menyerang penduduk tak berdosa dan membantai mereka serta mempebudak anak2 dan istri mereka. Mereka masih percaya bahwa Muhammad mengawini begitu banyak bini demi melindungi mereka dari "kelaparan" namun tidak tahu detil dari kejahatan2 skandal seks dan nafsu2 bejadnya.

Mayoritas Muslim orang baik-baik karena mereka tidak tahu Islam. Dan ya memang ada banyak orang-orang baik dan saleh di antara mereka, tetapi penyebabnya bukanlah Islam. Orang Muslim baik-baik tanpa Islam, dan mereka itu baik karena mereka tidak mengikuti perintah-perintah Quran.

Mereka yang tertarik masuk Islam dapat dipisah menjadi dua golongan. Kelompok pertama menemukan bahwa Islam itu menarik dan sesuai dengan karakter kriminal mereka. Mereka membunuh, menganiaya sesamanya, menjadi teroris dan menjalankan Quran dan Sunnah dengan sangat riang dan tanpa rasa malu sedikitpun. Anda akan menjumpai type macam ini di antara kaum semacam Taliban, para Mullah Iran, dan kaum teroris Islam di manapun (termasuk di Indonesia ini). Kelompok yang lainnya adalah yang terkejut dan muak ketika mereka melihat kebenaran sejati tentang Islam dan meninggalkannya. Jika anda seorang Muslim, tanyakanlah diri anda pada golongan yang mana anda berada? Sesudah mempelajari kebenaran sesungguhnya mengenai Islam dan menyaksikan sendiri bukti-bukti yang disodorkan di hadapan anda, anda dan saya tidak lagi berada dalam kelompok mayoritas yang "naif/tidak tahu". Yang saya maksud "tidak tahu" adalah ketidaktahuan akan Islam. Sekarang anda tahu kebenaran mengenai Islam dan apa yang ada di dalam Quran. Jika anda memilih Islam setelah mempelajari kebenaran sesungguhnya, anda ada di jalur yang berbeda dari mereka yang mengutamakan kelayakan sebagai manusia, kebenaran, dan kebaikan yang pantas. Di sinilah watak asli pribadi masing-masing diperlihatkan. Di sinilah garis perpisahan antara yang baik dan yang jahat ditarik. Anda bisa memilih untuk mengikuti yang baik dan meninggalkan Islam; atau anda memilih terus mengikuti kultus kegelapan penanam kebencian penuh pembunuhan ini dan menolak kelayakan bermanusiawi dan kebaikan.

Di sinilah di mana kita memperlihatkan watak asli kita. Kita semua telah membaca ayat2 Quran yang dipenuhi benci/dengki sama dengan yang telah saya baca, riwayat2 kejahatan sang Nabi yang sama dengan yang sudah saya baca. Namun reaksi kita berbeda. Kejahatan-kejahatan itu tidaklah sejalan dengan sifat saya dan sifat banyak orang jujur lainnya. Namun justru bagi beberapa orang mereka tidak punya masalah apapun untuk menerima kejahatan2 itu. Beberapa di antara kita menderita shock setelah mempelajari apa yang Muhammad lakukan pada Safiyah, yaitu memperkosanya setelah membunuh ayahnya dan pada hari yang sama pula membantai suaminya dan banyak sanak-keluarganya; beberapa orang lain tidak merasa apa-apa. Beberapa di antara kita muak membaca detil-detil kisah holocaust pertama yang disebabkan oleh Muhammad, pembantaian massal dgn darah-dingin terhadap orang2 Yahudi di Arabia; bagi beberapa yang lain itu sih tidak ada apa-apanya. Beberapa di antara kita bergidik sewaktu membaca bahwa sang Nabi biasa menteror lawan-lawannya seperti seorang gangster jalanan, tidak menunjukkan belas-kasihan bahkan terhadap kakek usia 120 thn dan seorang ibu beranak bayi 5, yang kesalahannya hanya karena ia mengarang sebuah syair yang membuat nabi kebakaran jenggot. Hal ini tidak berarti sesuatu apa pun bagi beberapa Muslim. Kita merasa muak sewaktu kita diberitahu bahwa orang ini, sang nabi suci Allah (damai untuk jiwanya yang bersih tanpa dosa) membakar perkebunan dan menghancurkan sumur2 air minum, pokoknya membenarkan segala cara demi mencapai tujuan yang diinginkannya. Bagi beberapa orang ini malah dianggap tanda-tanda orang tokoh besar. Beberapa di antara kita terguncang sewaktu membaca sang Nabi menyerang kafilah-kafilah pedagang, menjarah-merampoki kota-kota, memperbudak penduduk, memerintahkan supaya tawanan2 wanita yang diperolehnya dari perang diperkosa dan memperkaya diri sendiri dengan cara merampas harta benda korban2nya dan menjual si empunya sebagai budak. Bagi beberapa Muslim kesemuanya itu malah jadi bagian yang terpuji dari sosok seorang rasul Tuhan.

Jika itu yang anda rasakan, ya jelaslah anda dan saya memegang nilai-nilai yang sangat berbeda. Tuhan yang saya percaya adalah yang benar-benar murni kasih-sayang. Ia tidak membunuh, tidak merampok, menjarah, dan tidak mengutuki. Tuhan saya tidak memerintahkan pemerkosaan, tidak menjagal nyawa orang, Ia tidak membeda-bedakan dan tidak menamakan sebuah kelompok manusia sebagai si najis. Tuhan saya bukanlah khairul makerin sang "maha penipu", seperti yang dia jabarkan dalam Quran dan juga bukan seorang tirani yang bengis.

Saya percaya ada Setan, saya sudah pasti akan katakan, Allah Islam itu adalah Setan sebab perbuatan2nya menyingkapkan identitas aslinya dan sepak-terjangnya berciri Setan. Namun sebagaimana yang telah saya katakan, bahwa memang ada Muslim yang mengikuti Islam bukan karena Islam itu baik tapi karena Islam semata-mata mengukuhkan nilai-nilai (bengis) yang mereka asli pegang. Untungnya mayoritas umat, yang menamakan diri mereka Muslim, memiliki nilai-nilai yang berbeda daripada yang diajarkan oleh Islam. Mereka percaya pada kebaikan, kelayakan, kepada persamaan status semua orang tidak pandang kepercayaan dan jenis kelamin. Mereka percaya pada cinta dan bukan kebencian dan mereka ingin merangkul seluruh kemanusiaan dengan bersahabat, bukan membunuhi manusia dengan alasan agama mereka tidak benar. Orang-orang inilah yang sewaktu sadar melihat wajah Islam sebenarnya akan terus meninggalkannya (murtad). Dan dikarenakan pengetahuan ini tersebar dengan sangat cepat, jutaan orang Muslim meninggalkan Islam dan eksodus ini sedang memperoleh momentum. Sedikit masa lagi tidak akan ada yang tertinggal dari Islam kecuali sebuah nama buruk dan kenangan yang pahit. Namun tidak semua Muslim akan meninggalkan Islam. Para penjahat dan mereka yang memang dari sananya sudah dipenuhi benci akan tetap setia kepada Muhammad sama juga seperti tetap akan ada neo-nazi yang masih mengelu-elukan Hitler. Tetapi jumlah mereka akan susut dan daya bahaya mereka akan tertahan.


Top
 Profile E-mail  
 
 Post subject: Re: Islam adalah Agama Kebencian
PostPosted: Mon Oct 29, 2012 10:15 am 
Offline
Site Admin

Joined: Sat Sep 01, 2012 4:03 am
Posts: 28
Loyalitas dan Kebencian yang disyariatkan Islam (I)

1. Definisi al-wala' wal bara'

Wala' adalah kata mashdar dari fi'il "waliya" yang artinya dekat. Yang dimaksud dengan wala' di sini adalah dekat kepada kaum muslimin dengan mencintai mereka, membantu dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka dan bertempat tinggal bersama mereka.

Sedangkan bara' adalah mashdar dari bara'ah yang berarti memutus atau memotong. " artinya memotong pena. Maksudnya di sini ialah memutus hubungan atau ikatan hati dengan orang-orang kafir, sehingga tidak lagi mencintai mereka, membantu dan menolong mereka serta tidak tinggal bersama mereka.

2. Kedudukan al-wala' wal bara' dalam islam

Di antara hak tauhid adalah mencintai ahlinya yaitu para muwahhidin, serta memutuskan hubungan dengan para musuhnya yaitu kaum musyrikin. Allah berfirman: "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menu-naikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang-siapa mengambil Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang." (Al-Maidah: 55-56)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka men-jadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (Al-Maidah: 51)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia ..." (Al-Mumtahanah: 1)

"Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain." (Al-Anfal: 73)

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (Al-Mujadilah: 22)

Dari ayat-ayat di atas jelaslah tentang wajibnya loyalitas kepada orang-orang mukmin, dan memusuhi orang-orang kafir; serta kewajiban menjelaskan bahwa loyal kepada sesama umat Islam adalah kebajikan yang amat besar, dan loyal kepada orang kafir adalah bahaya besar.

Kedudukan al-wala' wal bara' dalam Islam sangatlah tinggi, karena dialah tali iman yang paling kuat. Sebagaimana sabda Rasulullah : "Tali iman paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." (HR. Ibnu Jarir)
Dan dengan al-wala' wal bara'-lah kewalian Allah dapat tergapai.

Diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu : "Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi wala' karena Allah dan memusuhi karena Allah maka sesungguhnya dapat diperoleh kewalian Allah hanya dengan itu. Dan seorang hamba itu tidak akan merasakan lezatnya iman, sekali pun banyak shalat dan puasanya, sehingga ia melakukan hal tersebut. Dan telah menjadi umum persaudaraan manusia berdasarkan kepentingan duniawi, yang demikian itu tidaklah bermanfaat sedikit pun bagi para pelakunya." (HR. Thabrani dalam Al-Kabir)

Maka jelaslah bahwa menjalin wala' atau loyalitas dan ukhuwah selain karena Allah tidak ada gunanya di sisi Allah .

3. Mudahanah dan kaitannya dengan al-wala' wal bara'

Mudahanah artinya berpura-pura, menyerah dan meninggalkan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar serta melalaikan hal tersebut karena tujuan duniawi atau ambisi pribadi. Maka berbaik hati, ber-murah hati atau berteman dengan ahli maksiat ketika mereka berada dalam kemaksiatannya, sementara ia tidak melakukan pengingkaran padahal ia mampu kelakukannya maka itulah mudahanah.

Kaitan mudahanah dengan al-wala'wal bara' tampak dari arti dan definisi yang kita paparkan tersebut, yaitu meninggalkan pengingkaran terhadap orang-orang yang bermaksiat padahal ia mampu melaksanakannya. Bahkan sebaliknya ia menyerah kepada mereka dan berpura-pura baik kepada mereka. Hal ini berarti meninggalkan cinta karena Allah dan permusuhan karena Allah.

Bahkan ia semakin memberikan dorongan kepada para pendurhaka dan perusak.
Maka orang penjilat atau mudahin seperti ini termasuk dalam firman Allah : "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar
yang mereka per-buat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka
per-buat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan
orang-orang yang kafir (musyrik)." (Al-Ma'idah: 78-80)

4. Mudarah serta pengaruhnya terhadap al-wala' wal bara'

Mudarah adalah menghindari mafsadah (kerusakan) dan kejaha-tan dengan ucapan yang lembut atau meninggalkan kekerasan dan sikap kasar, atau berpaling dari orang jahat jika ditakutkan kejahatannya atau terjadinya hal yang lebih besar dari kejahatan yang sedang dila-kukan. Dalam sebuah hadits disebutkan: "Sejahat-jahat kamu adalah orang-orang yang ditakuti manusia karena mereka khawatir akan kejahatannya." (HR. Ibnu Abu Dunya dengan redaksi senada)

Dari Aisyah radhiallaahu anha bahwasanya seorang laki-laki meminta izin masuk menemui Nabi , seraya berkata, "Dia saudara yang jelek dalam keluarga". Kemudian ketika orang itu masuk dan menghadap Nabi beliau berkata kepadanya dengan ucapan yang lembut. Maka Aisyah berkata, "Engkau tadi berkata tentang dia seperti apa yang engkau katakan". Maka Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya Allah membenci 'fuhsy' (ucapan keji) dan 'tafahuhusy' (berbuat keji)." (HR. Ahmmad dalam Musnad )

Nabi telah berbuat mudarah dengan orang tadi ketika dia menemui Nabi - padahal orang itu jahat - karena beliau menginginkan kemaslahatan agama. Maka hal itu menunjukkan bahwa mudarah tidak bertentangan dengan al-wala' wal bara', kalau memang mengandung kemaslahatan lebih banyak dalam bentuk menolak kejahatan atau menundukkan hatinya atau memperkecil dan memperingan kejahatan.

Ini adalah salah satu metode dalam berdawah kepada Allah. Termasuk di dalamnya adalah mudarah Nabi terhadap orang-orang munafik karena khawatir akan kejahatan mereka dan untuk menundukkan hati mereka dan orang lain.

5. Beberapa contoh tentang setia dan memusuhi karena Allah

a. Sikap Nabi Ibrahim alaihissalam dan pengikutnya terhadap kaumnya yang
kafir.
Allah berfirman: "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja'." (Al-Mutahanah: 4)

Imam Ibnu Katsir berkata, "Allah berkata kepada hamba-hambaNya yang mukmin yang diperintahkanNya untuk memerangi, memusuhi dan menjauhi orang-orang kafir, "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia", maksudnya adalah pengikut-pengikutnya yang mukmin.

"Ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, kami melepaskan diri dari kalian dan dari tuhan-tuhan yang kalian sembah selain Allah.

"Kami ingkari (kekafiran) mu" , maksudnya dien-mu dan jalan-mu.

"Dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya", maksudnya telah disyari'atkan per-musuhan dan kebencian -mulai dari sekarang- antara kami dan kalian selama kalian tetap kafir. Maka selamanya kami berlepas diri dari kalian serta membenci kalian.

"Sampai kamu beriman kepada Allah saja" , maksudnya sampai kalian mentauhidkan Allah semata, tanpa syirik dan membuang semua tuhan yang kalian sembah bersamaNya.

Maka ayat tersebut menunjukkan bahwa al-wala' wal bara' adalah ajaran Nabi Ibrahim, yang kita diperintahkan untuk mengikutinya. Allah menceritakan hal tersebut agar kita mencontohnya. Dia berfirman, "Telah terdapat bagimu teladan yang baik." Dan pada penutup ayat, Allah berfirman: "Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada tela-dan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan bara-ngsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi terpuji." (Al-Mumtahanah: 6)

b. Sikap orang-orang Anshar terhadap saudara-saudaranya dari kaum Muhajirin.

Allah berfirman: "Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 9)

Maksudnya, orang-orang yang tinggal di Darul Hijrah, yaitu Madinah, sebelum kaum Muhajirin, dan kebanyakan mereka beriman sebelum Muhajirin, mereka mencintai dan menyayangi orang-orang yang berhijrah kepada mereka, karena kemuliaan dan keagungan jiwa mereka, dengan membagikan harta benda mereka tanpa merasa iri terhadap keutamaan yang diberikan kepada Muhajirin daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri juga sangat membutuhkan.

Ini adalah puncak itsar (mengutamakan saudara) dan wala' kepada Allah terhadap para penolong Rasulullah .

c. Sikap Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap kemunafikan ayahnya yang berkata dalam salah satu pertempuran:

"Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya." (Al-Munafiqun: 8)

Dia menginginkan al-a'azzu (orang yang kuat) adalah dirinya sedangkan al-adzallu (yang lemah) adalah Rasulullah . Ia mengancam akan mengusir Rasulullah dari Madinah. Maka ketika hal itu didengar oleh anaknya, Abdullah, seorang mukmin yang taat dan jujur, dan dia mendengar bahwa Rasulullah ingin membunuh ayahnya yang mengucapkan kata-kata penghinaan tersebut, juga kata-kata lainnya, maka Abdullah menemui Rasulullah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, saya mendengar bahwa anda ingin membunuh Abdullah bin Ubay, ayah saya. Jika anda benar-benar ingin melakukannya, maka saya bersedia membawa kepalanya kepada anda". Maka Rasulullah bersabda, "Bahkan kita akan bergaul dan bersikap baik kepadanya selama dia tinggal bersama kita."

Maka tatkala Rasulullah dan para sahabat kembali pulang ke Madinah, Abdullah
bin Abdullah berdiri menghadang di pintu kota Madinah dengan menghunus
edangnya. Orang-orang pun berjalan melewatinya. Maka ketika ayahnya lewat, ia berkata kepada ayahnya, "Mundur!" Ayahnya bertanya keheranan, "Ada apa ini, jangan kurang ajar kamu!" Maka ia menjawab, "Demi Allah, jangan melewati tempat ini sebelum Rasulullah mengizinkanmu, karena beliau adalah al-aziz (yang mulia) dan engkau adalah adz-dzalil (yang hina)." Maka ketika Rasulullah datang padahal beliau berada di pasukan bagian belakang, Abdullah bin Ubay mengadukan anaknya kepada beliau. Anak-nya, Abdullah berkata, "Demi Allah wahai Rasulullah , dia tidak boleh memasuki kota sebelum Anda mengizinkannya." Maka Rasulullah pun mengizinkannya, lalu Abdullah berkata, "Karena Rasulullah mengizinkan maka lewatlah sekarang."

6. Menyayangi dan memusuhi para ahli maksiat

Penjelasan di atas adalah tentang pemberian wala' kepada sesama mukmin sejati dan permusuhan kepada kafir sejati. Adapun golongan ketiga yaitu orang mukmin yang banyak melakukan dosa besar, pada dirinya terdapat iman dan kefasikan, atau iman dan kufur kecil yang tidak sampai pada tingkat murtad . Bagaimana hukumnya dalam hal ini?!

Jawabannya adalah bahwa orang itu terdapat hak muwalah (diberi wala') dan mu'adah (dimusuhi). Dia disayangi karena imannya, dan dimusuhi karena kemaksiatannya dengan tetap memberikan nasihat untuknya; memerintahnya pada kebaikan, melarangnya dari kemungkaran dan mengucilkannya bilamana pengucilan itu memang membuatnya jera dan malu.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Apabila berkumpul pada diri seseorang kebaikan dan kejahatan, ketakutan dan kemaksiatan, atau sunnah dan bid'ah, maka dia berhak mendapatkan permusuhan dan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang ada padanya. Maka ber-kumpullah pada diri orang tersebut hal-hal yang mewajibkan pemulia-an dan mengharuskan penghinaan. Maka dia berhak mendapatkan ini dan itu. Seperti pencuri miskin; dia dipotong tangannya karena mencuri, lalu ia diberi harta dari baitul mal yang bisa mencukupinya. Ini-lah hukum asal yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah, ber-beda dengan Khawarij, Mu'tazilah dan orang-orang yang sepaham dengan mereka. Mereka hanya mengelompokkan manusia dalam dua golongan: orang-orang yang dapat pahala saja atau mendapat siksa saja." Ini sangatlah jelas bagi masalah yang sangat penting ini.

7. Menyambut dan ikut merayakan hari raya atau pesta orang-orang kafir serta Berbelasungkawa dalam hari duka mereka

A. Hukum Menyambut dan Bergembira dengan Hari Raya Mereka

Sesungguhnya di antara konsekuensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi'ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi'ar (perayaan) mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.

Ada seorang lelaki yang datang kepada baginda Rasul untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi menyatakan kepadanya : "Apakah di sana ada berhala dari berhala-hala orang Jahiliyah yang disembah?" Dia menjawab, "Tidak". Beliau bertanya, "Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari-hari raya mereka?" Dia menjawab, "Tidak". Maka Nabi bersabda, "Tepatilah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam." (HR. Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menunjukkan, tidak boleh menyembelih untuk Allah di tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam menga-gungkan syi'ar-syi'ar mereka atau menjadi wasilah yang menghantarkan kepada syirik. Begitupula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala' kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi'ar-syi'ar mereka.

Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka. Dan di antaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para saha-bat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, "Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak
diperbolehkan karena dua alasan:
Pertama: Bersifat umum, sepertti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti Ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiasaan salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat me-nyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketepatan semata, bukan karena mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari'atkan adalah menyelisihinya telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehi-langan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apa pun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan kedua: karena hal itu adalah bid'ah yang diada-adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya me-nyerupai mereka dalam hal itu."

Beliau juga mengatakan, "Tidak halal bagi kaum muslimin bertasyabbuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka; seperti makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah atau pun yang lain-nya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau men-jual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak atau pun yang lainnya melakukan per mainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi'ar mereka pada hari itu. Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh . Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas
maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap
kafir orang yang melakukan hal ter-sebut, karena dia telah mengagungkan
syi'ar-syi'ar kekufuran. Segolongan ulama mengatakan, "Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi." Abdullah bin Amr bin Ash berkata, "Siapa yang mengikuti negara-negara 'ajam (non-Islam) dan melakukan perayaan Nairuz dan Mihrajan serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat."

B. Hukum Ikut Merayakan Pesta, Walimah, Hari Bahagia atau Hari Duka Mereka
Dengan Hal-hal yang Mubah serta Berta'ziyah pada Musibah Mereka.

Tidak boleh memberi ucapan selamat (tahni'ah ) atau ucapan bela-sungkawa (ta'ziyah) kepada mereka, karena hal itu berarti memberikan wala' dan mahabbah kepada mereka. Juga dikarenakan hal tersebut mengandung arti pengagungan (penghormatan) terhadap mereka. Maka hal itu diharamkan berdasarkan larangan-larangan ini. Sebagaima-na haram mengucapkan salam terlebih dahulu atau membuka jalan ba-gi mereka.

Ibnul Qayyim berkata, "Hendaklah berhati-hati jangan sampai terjerumus sebagaimana orang-orang bodoh, ke dalam ucapan-ucapan yang menunjukkan ridha mereka terhadap agamanya. Seperti ucapan mereka, "Semoga Allah membahagiakan kamu dengan agamamu", atau "memberkatimu dalam agamamu", atau berkata, "Semoga Allah memuliakanmu". Kecuali jika berkata, "Semoga Allah memuliakanmu dengan Islam", atau yang senada dengan itu. Itu semua tahni'ah dengan perkara-perkara umum. Tetapi jika tahni'ah dengan syi'ar-syi'ar kufur yang khusus milik mereka seperti hari raya dan puasa mereka, dengan mengatakan, "Selamat hari raya Natal" umpamanya atau "Berbahagialah dengan hari raya ini" atau yang senada dengan itu, maka jika yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, dia tidak lepas dari maksiat dan keharaman. Sebab itu sama halnya dengan memberikan ucapan selamat terhadap sujud mereka
kepada salib; bahkan di sisi Allah hal itu lebih dimurkai daripada memberikan selamat atas perbuatan meminum khamr, membunuh orang atau berzina atau yang sebangsanya.
Banyak sekali orang yang terjerumus dalam hal ini tanpa menyadari keburukannya. Maka barangsiapa memberikan ucapan selamat kepada seseorang yang melakukan bid'ah, maksiat atau pun kekufuran maka dia telah menantang murka Allah. Para ulama wira'i (sangat menjauhi yang makruh, apalagi yang haram), mereka senantiasa menghindari tahni'ah kepada para pemimpin zhalim atau kepada orang-orang dungu yang diangkat sebagai hakim, qadhi, dosen atau mufti; demi untuk menghin-dari murka Allah dan laknatNya."

Dari uraian tersebut jelaslah, memberi tahni'ah kepada orang-orang kafir atas hal-hal yang diperbolehkan (mubah) adalah dilarang jika mengandung makna yang menunjukkan rela kepada agama mereka. Adapun memberikan tahni'ah atas hari-hari raya mereka atau syi'ar-syi'ar mereka adalah haram hukumnya dan sangat dikhawatirkan pelakunya jatuh pada kekufuran.

(Dinukil dari Kitab Al Wala dan Al Bara, karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Mufti Lembaga Tetap Kajian Ilmiyah dan Fatwa Saudi Arabia. )


Top
 Profile E-mail  
 
 Post subject: Re: Islam adalah Agama Kebencian
PostPosted: Mon Oct 29, 2012 10:21 am 
Offline
Site Admin

Joined: Sat Sep 01, 2012 4:03 am
Posts: 28
Loyalitas dan Kebencian yang disyariatkan Islam (II)

8. Hukum meminta bantuan kepada orang-orang kafir

A. Dalam bidang bisnis atau pekerjaan

Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disem-bunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi." (Ali Imran: 118)

Imam Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan, "Janganlah engkau menjadikan orang-orang non muslim sebagai wali, orang kepercayaan atau orang-orang pilihan, karena mereka tidak segan-segan melakukan apa-apa yang membahayakanmu."

Syaikh Ibnu Taimiyah mengatakan, "Para peneliti telah mengetahui bahwa orang-orang ahli dzimmah dari Yahudi dan Nashrani mengirim berita kepada saudara-saudara seagamanya tentang rahasia-rahasia orang Islam. Di antara bait-bait yang terkenal adalah:

"Setiap permusuhan dapat diharapkan kasih sayangnya, kecuali permusuhan orang yang memusuhi karena agama."

Karena itulah mereka dilarang memegang jabatan yang membawahi orang-orang Islam dalam bidang pekerjaan, bahkan mempeker-jakan orang Islam yang kemampuannya masih di bawah orang kafir itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi umat Islam dalam agama dan dunia mereka. Sedikit tapi dari yang halal diberkati Allah, sedangkan banyak tapi dari yang haram dimurkai Allah."

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan:

1. Tidak boleh mengangkat orang kafir untuk kedudukan yang membawahi orang-orang Islam, atau yang memungkinkan dia menge-tahui rahasia-rahasia umat Islam; misalnya para menteri atau para penasihat, karena Allah berfirman: "... janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu." (Ali Imran: 118)

Atau juga diangkat menjadi pegawai pemerintahan di daerah negara Islam.

2. Diperbolehkan mengupah orang-orang kafir untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sampingan yang tidak menimbulkan suatu bahaya dalam politik negara Islam, umpamanya menjadi guide (penunjuk jalan), pemborong konstruksi bangunan, proyek perbaikan ja-lan, dan sejenisnya dengan syarat tidak ada orang Islam yang mampu untuk itu. Karena baginda Nabi dan Abu Bakar radhiallaahu anhu pernah mengu-pah seorang laki-laki musyrik dari Bani Ad-Diil sebagai penunjuk jalan ketika berhijrah ke Madinah. (HR. Al-Bukhari)

B. Dalam urusan perang

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Dan yang benar adalah diperbolehkan, apabila diperlukan dalam keadaan darurat, juga bila orang yang dimintai pertolongan dari mereka itu dapat dipercaya dalam masalah jihad.

Ibnul Qayyim berkata tentang manfaat perjanjian Hudaibiyah: "Di antaranya, bahwa meminta bantuan kepada orang musyrik yang dapat dipercaya dalam hal jihad adalah diperbolehkan ketika benar-benar diperlukan, dan pada orang (musyrik) itu juga terdapat maslahah yaitu dia dekat dan mudah untuk bercampur dengan musuh dan dapat mengambil kabar dan rahasia mereka.

Juga diperbolehkan ketika dalam keadaan darurat, Imam Zuhry meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah meminta pertolongan kepa-da orang-orang Yahudi dalam perang Khaibar (tahun 7 H), dan Sof-wan bin Umaiyah ikut serta dalam perang Hunain padahal ia pada saat itu musyrik. Termasuk darurat misalnya jumlah orang-orang kafir lebih banyak dan sangat ditakutkan, dengan syarat dia berpandangan baik terhadap kaum muslimin. Adapun jika tidak diperlukan maka tidak diperbolehkan meminta bantuan kepada mereka, karena orang kafir itu sangatlah dimungkinkan berkhianat dan bisa jadi menjadi senjata makan tuan, oleh karena buruknya hati mereka. Tapi yang tampak dari ucapan Syaikh Ibnu Taimiyah adalah boleh meminta per-tolongan kepada mereka secara mutlak.

9. Mengutamakan tinggal dan bekerja di negara kafir

Bekerjanya seorang muslim untuk mengabdi atau melayani orang kafir adalah haram, karena hal itu berarti penguasaan orang kafir atas orang muslim serta penghinaannya. Iqamah atau bertempat tinggal terus-menerus di antara orang-orang kafir juga diharamkan. Karena itu Allah mewajibkan hijrah dari negara kafir menuju negara muslim dan mengancam yang tidak mau berhijrah tanpa uzdur syar'i. Juga meng-haramkan seorang muslim bepergian ke negara kafir kecuali karena alasan syar'i dan mampu menunjukkan ke-Islamannya, kemudian jika selesai tujuannya maka ia harus segera kembali ke negara Islam.

Adapun pekerjaan seorang muslim kepada orang kafir yang tidak bersifat melayani seperti menjahit atau membangun tembok dan lain sebagainya dari setiap pekerjaan yang ada dalam tanggungannya, maka hal ini diperbolehkan, karena tidak ada unsur penghinaan. Hal ini berdasarkan riwayat Ali Radhiallaahu anhu , ia berkata: "Saya bekerja untuk seorang perempuan Yahudi dengan upah setiap timba air ditukar dengan sebutir kurma. Kemudian saya ceritakan hal itu kepada Rasulullah dan aku bawakan beberapa butir kurma lalu beliau pun memakan sebagian kurma tersebut bersama saya." (HR. Al-Bukhari)

"Dan Khabbab bekerja untuk Al-'Ash bin Wa'il di Makkah sedang Nabi mengetahuinya dan beliau pun menyetujuinya." (HR. Al-Bukhari)

Hal ini menunjukkan dibolehkannya pekerjaan serupa ini, karena ia merupakan akad tukar-menukar seperti halnya jual beli, tidak mengandung penghinaan terhadap muslim, tidak menjadikannya sebagai abdi dan tidak bertentangan dengan sifat bara'-nya dari mereka dan dari agama mereka.

Adapun yang mengutamakan bekerja pada orang-orang kafir dan bertempat tinggal (menetap) bersama mereka daripada bekerja dan ber-iqamah di tengah-tengah kaum muslimin, ia memandang kebo-lehan wala' kepada mereka dan ridha terhadap agama mereka maka tidak syak lagi bahwa hal itu adalah murtad, keluar dari Islam. Apa-bila ia melakukan hal yang demikian itu karena tamak terhadap dunia atau kekayaan yang melimpah di negara mereka dengan perasaan benci kepada agama mereka dan tetap menjaga agamanya, maka hal itu diharamkan dan dikhawatirkan membawa dampak buruk terhadap dirinya, yang akhirnya menjadikannya ridha dengan agama mereka.

10. Hukum meniru kaum kuffar, macam-macam dan dampaknya

A. Hukumnya
Meniru kaum kuffar dalam hal-hal yang menjadi kekhasan mere-ka atau adat mereka adalah haram dan diancam dengan ancaman yang keras, karena itu merupakan bentuk wala' kepada mereka. Padahal Rasulullah bersabda: "Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) dengan suatu kaum maka ia termasuk dari mereka." (HR. Ahmad, Abu Daud dan di- shahih-kan oleh Ibnu Hibban)

Kemudian keharamannya berbeda-beda menurut mafsadah (keru-sakan) yang ditimbulkannya serta dampak-dampak yang disebabkan olehnya.

B. Macam-macamnya

Meniru dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka terbagi menjadi beberapa bagian; ada yang kufur, ada yang mengarah kepada kekufuran atau kefasikan dan ada yang maksiat biasa.

Bagian Pertama:

Meniru mereka dalam ajaran atau bagian dari agama mereka yang batil, seperti mendirikan bangunan di atas kuburan, atau mengkultus-kan sebagian makhluk dengan menjadikannya sebagai tuhan-tuhan kecil di samping Allah dengan beri'tikaf di atas kuburan mereka, atau mentaati mereka dalam penghalalan dan pengharaman, serta menghu-kumi selain apa yang diwahyukan oleh Allah, ini adalah kufur kepada Allah atau merupakan wasilah yang menghantarkan kepada kekufur-an. Rasulullah melaknat orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat-tempat ibadah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Allah berfirman: "Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga) mereka mempertuhankan Al-Masih putra Maryam ..." (At-Taubah: 31)

Maka perbuatan mereka menjadikan para pendeta sebagai tuhan selain Allah adalah kufur. Sedangkan mendirikan bangunan di atas kuburan adalah penghantar kepada kekufuran.

Bagian Kedua:

Meniru mereka dalam bid'ah-bid'ah yang mereka adakan dalam agama mereka dalam hari-hari raya yang batil, ini hukumnya adalah haram.

Bagian Ketiga:

Meniru mereka dalam adat istiadat dan akhlak mereka yang buruk serta budaya mereka yang kotor, juga penampilan mereka yang ter-cela, seperti mencukur jenggot, mengumbar aurat dan lain sebagainya. Ini adalah permasalahan yang sangat luas dan semua itu adalah haram hukumnya, termasuk dalam sabda Rasulullah , "Siapa yang ber tasyabbuh dengan suatu kaum maka ia termasuk golongannya."

Karena menyerupai mereka secara lahir menunjukkan wala' mereka secara batin.

Adapun hal-hal yang bukan menjadi ciri khas mereka, bahkan merupakan hal-hal milik bersama semua manusia, seperti mempelajari industri yang sangat bermanfaat, membangun kekuatan, memanfaat-kan apa yang dibolehkan Allah, semisal perhiasan yang telah dikeluar-kan untuk para hambaNya, memakan hasil-hasil bumi yang baik; maka semua ini tidak disebut taqlid (meniru), bahkan termasuk ajaran agama kita. Dan pada dasarnya ia adalah milik kita, sedangkan mereka dalam hal ini hanya mengikuti kita. Allah berfirman: "Katakanlah: 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?' Katakanlah: 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat'." (Al-A'raf: 32)

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi ..." (Al-Anfal: 60)

"Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Al-Hadid: 25)
Allah mengabarkan bahwa besi mengandung banyak daya guna untuk manusia secara umum.

C. Beberapa Dampak Negatif Taqlid


1. Taqlid kepada kuffar mengandung wala' kepada mereka, karena menyerupai mereka dalam lahirnya menunjukkan rasa kecintaan kepada mereka dalam batinnya. Seandainya membenci mereka, tentu tidak mau menirunya.

2. Taqlid kepada kuffar menunjukkan kekagumannya kepada mere-ka dan apa yang ada pada mereka serta ketidaksenangannya kepa-da ajaran Islam dan penghinaannya kepada orang-orang Islam.

3. Taqlid kepada kuffar mengandung makna pengekoran kepada mereka dan peleburan syakhshiyah (kepribadian) umat Islam serta penghancuran eksistensi mereka.

4. Taqlid kepada kuffar melemahkan kaum muslimin dan menjadi-kan mereka bergantung kepada musuh-musuh mereka serta menjadikan mereka malas berproduksi, dan pada akhirnya senang meminta balas kasihan kepada orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi pada saat ini.

5. Taqlid kepada kuffar berarti ikut membantu mereka dalam menghidupkan dan mengembangkan bid'ah serta kemusyrikan mereka.

6. Taqlid kepada kuffar merusak agama kaum muslimin dengan terciptanya berbagai bid'ah dengan khurafat yang diambil dari agama kaum kuffar.

11. Bentuk-bentuk taqlid kepada kuffar yang buruk

Yaitu melampaui batas dalam menyenangi dan menggandrungi perkara-perkara sepele yang tidak banyak artinya, dan menggelutinya sampai lupa kepada Allah, lalai dari ketaatan kepadaNya serta lalai dan meninggalkan amal usaha yang berguna bagi dunia dan agama-nya. Mereka melakukan hal ini sebagai akibat dari kekosongan hidup yang dialaminya; hidup tanpa aqidah, tanpa ibadah dan tanpa keba-jikan yang ditabungkan untuk akhirat. Mereka melakukan karena terpedaya dan terkecoh oleh bangsa-bangsa lain yang terus-menerus mengupayakan untuk menjauhkan mereka dari agama dan akhirat me-reka. Apapun yang memalingkan dari agama dan ibadah adalah haram hukumnya, sekali pun bernilai materi yang tinggi seperti harta kekayaan. Allah telah mengharamkan perbuatan menyibukkan diri dengan materi yang jauh dari akhirat. Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah." (Al-Muna-fiqun: 9)

Maka bagaimanakah dengan hal-hal yang tidak bernilai, tidak berharga dan tidak berfaedah? Di antara hal-hal ini adalah sebagai berikut:

1. Apa yang mereka sebut sebagai dunia seni; seni suara, seni musik, seni tari, seni drama, dunia pentas dan panggung serta gedung-gedung bioskop yang banyak didatangi oleh orang-orang yang bingung, jauh dari jalan kebenaran dan jalan yang serius dalam kehidupan.

2. Menggeluti dunia gambar, fotografi, lukisan dan pembuatan patung-patung dan lain sebagainya yang mereka sebut-sebut sebagai seni yang indah.

3. Banyak di antara pemuda yang hidupnya mati-matian demi menggeluti beberapa cabang olah raga, sampai ia lupa kepada Allah, lupa ketaatan, menelantarkan shalat dan lupa kewajiban-kewa-jiban lain dalam rumah maupun sekolah. Semestinya yang lebih pantas bagi mereka adalah mengarahkan perhatian pada apa yang baik bagi umat dan tanah airnya serta berjuang untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat.

Di antara hal-hal tersebut di atas ada yang diharamkan dalam agama, ada pula yang dibolehkan sebatas tidak mengalahkan apa yang lebih bermanfaat daripadanya. Apalagi umat Islam dewasa ini sedang menghadapi berbagai macam tantangan dari para musuhnya. Tentu yang lebih utama adalah menghemat waktu dan kekuatan untuk meng hadapi tantangan-tantangan ini, untuk memadamkan atau memperkecil pengaruh dan bahayanya. Orang-orang Islam sebenarnya tidak mempunyai waktu luang untuk bersantai-ria dengan segala macam hiburan itu.

Dan Allah-lah tempat kita meminta pertolongan.

12. Sikap pasif kaum muslimin dan proble-matikanya

Di antara sikap wala' dan mahabbah karena Allah antar-umat Islam adalah seorang muslim harus mempedulikan urusan masyara-katnya secara umum dan mempedulikan urusan saudaranya sesama muslim secara khusus. Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan, kasih sayang dan kelembutannya adalah bagaikan satu jasad. Manakala suatu anggota tubuhnya mengadu kesakitan, maka sekujur tubuhnya itu menanggungnya, tidak tidur malam dan demam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah gambaran masyarakat muslim. Adapun gambaran antar-pribadi muslim
adalah seperti yang disabdakan oleh baginda Rasul : "Orang mukmin satu dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang sebagian menguatkan sebagian yang lain. Dan beliau merajutkan antara jari-jemarinya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka kewajiban kaum muslimin, baik secara individu maupun kelompok adalah memperhatikan berbagai problema yang ada di antara mereka, dan problema yang ada antara mereka dengan musuh-musuh mereka, sehingga mereka mau menjalin ukhuwah Islamiyah. Allah berfirman: “... sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu ..." (Al-Anfal: 1)

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antar-kedua saudaramu ..." (Al-Hujurat: 10)

Dan hendaknya mereka memperhatikan jihad melawan musuh-musuh mereka. Allah
berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui keke-rasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah: 123)

Maksudnya ialah mempersiapkan diri sebelum berjihad dengan menyelesaikan berbagai problematika yang mengganjal, menyatukan barisan, memperbaiki kondisi dan mempersiapkan segala peralatan. Maka barangsiapa yang tidak mempedulikan problematika kaum muslimin, bahkan bersikap pasif, maka hal itu menunjukkan lemahnya iman, atau juga berarti bahwa dia itu munafik yang memberikan wala' kepada kuffar. Allah berfirman tentang orang-orang munafik:

"(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mu'min). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: 'Bukan-kah kami (turut berperang) beserta kamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: 'Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?'." (An-Nisa': 141)

Allah menjelaskan bahwa sikap kaum munafik terhadap per-masalahan umat Islam adalah pasif, menunggu dan menonton siapa yang menang akan menjadi kawan.

Adapun mukmin yang benar selalu memiliki karakter nasihat (kesetiaan), baik dalam ucapannya, amalnya dan kiprahnya dalam masya-rakatnya. Rasulullah bersabda: "Agama itu adalah nasihat (kesetiaan)." Beliau mengucapkan tiga kali. Kami bertanya, "Untuk siapa ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, untuk RasulNya, untuk para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya." (HR. Muslim)

Demikianlah mudah-mudahan Allah memperbaiki kondisi umat Islam dengan meluruskan aqidah mereka, memperbaiki bangsa dan para pemimpin mereka, dan semoga menyatukan hati mereka serta membulatkan tekad mereka.

Semoga shalawat serta salam tetap tercurah untuk Nabi kita Muhammad beserta
keluarga dan sahabatnya. Amin. *

(Dinukil dari Kitab Al Wala dan Al Bara, karya Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Mufti Lembaga Tetap Kajian Ilmiyah dan Fatwa Saudi Arabia. )


Top
 Profile E-mail  
 
 Post subject: Re: Islam adalah Agama Kebencian
PostPosted: Fri Aug 28, 2015 5:26 am 
Offline

Joined: Fri Aug 28, 2015 4:25 am
Posts: 1
permisi... saya hanyalah hamba tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang
saya mau ngomong sbntar boleh??

(90:17)Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(3:118)Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

*** mm sbernya gk ada yang bilang di luar agama mu tp penggunaaannya katanya diluar kalangan mu? diluar kalangan itu banyak mksdnya .. sungguh alquran itu turun gk secara sistematis(berurutan dari alfatihah sampe surat terkahir) tp secara tematik (kondisi pada saat itu) .. sungguh untuk mempelajari alquran harus tw dlu kondisi saat ayat itu turun dan jg hubungannya dengan ayat lain


(at-taubah :31)Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

***mm apa yang salah ya dengan ayat inih?? kan emg gk boleh menyukutukan tuhan yang maha esa ??


(al-maidah : 51)Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

(al mumtahanah : 1)Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus

(al anfal : 73) Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.

(al-mujadila:22)Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

*** "admin : Dari ayat-ayat di atas jelaslah tentang wajibnya loyalitas kepada orang-orang mukmin, dan memusuhi orang-orang kafir;"
memusuhi org kafir yang manah ya ayatnya?? mmm itu smua org2 yang di musuhin tuhan = org2 yang selalu ada niat jahat sama islam maupun sama nabi muhammad .. masa org2 kayak gitu kita harus berkasih sayang sama mereka?? mm logikanya gk ada rasanya

(2:120) Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

*** "kata admin : Agama-agama besar lainnya selalu dipersepsi sebagai agama yang sesat, jahat, dan selalu memusuhi Islam. Ini juga merupakan derivasi langsung dari Alquran: “Orang-orang Yahudi dan Nasrasi tak akan rela sehingga kalian semua masuk ke dalam agama mereka” (Q.S. 2:120). ""

adminya suka potong2 ayat alquran .. jgn dong min :(
mmm untuk lebih memahami alquran dan kata ""tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama"" tolong mimin memperhatikan sejarah ayat ini turun .. mungkin perlawanan org yahudi sama nasrani waktu itu yang tidak senang terhadap islam ??

#NB: untuk masalah terorisme dll yang menyangkut islam.. aku menilai mereka hanya mempelajari alquran itu hanya 1 ayat tp tidak di hubungkan dengan ayat lainnya yang mewajiban untuk berkasih sayang

(90:17)Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

dan jg mereka (para teroris) yang membawa2 nama islam sbernya mereka hanya org org bodoh yang tidak melihat dari sejarah ayat itu turun .. pengetahuan mereka rendah .. bikin malu islam .. smoga allah mengazab mereka smua para terroris yang membawa2 islam dalam teror mereka di akhirat nanti

salam^^


Top
 Profile E-mail  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 4 posts ] 

All times are UTC


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
cron
Create a free forum | phpBB © | Support Forum | Report Abuse